Sudah satu tahun lebih Indonesia berjuang mengatasi kasus Covid-19 dari mulai pertama kali ditemukan pada tanggal 2 Maret 2020 hingga saat ini (per 21 Juli 2021). Sejak itu pula, kegiatan-kegiatan yang biasanya dilakukan secara luring, secara terpaksa harus bertransformasi menjadi daring demi meminimalisasi penyebaran Covid-19. Salah satu kegiatan yang turut serta bertransformasi ialah Kuliah Kerja Nyata (KKN).

Selama berkuliah, ada satu masa seorang mahasiswa harus melakukan kegiatan KKN sebagai bentuk pengaplikasian dari Tri Dharma perguruan tinggi, yakni pengabdian kepada masyarakat. Biasanya KKN itu dilakukan mahasiswa secara luring dengan cara turun langsung menghampiri masyarakat di lapangan. Akan tetapi karena adanya kasus sejak Maret 2020, mengharuskan mahasiswa melakukan kegiatan KKN secara daring.

Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menjadi salah satu universitas yang telah memberlakukan KKN daring selama dua kali, yakni pada tahun 2020 dan 2021. Di tahun pertamanya, UPI mengusung Tema Pencegahan dan Penanggulangan Dampak Covid-19 di Bidang Pendidikan dan ekonomi; dan di tahun keduanya, UPI mengusung tema Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Membangun Desa melalui Bidang Pendidikan dan Ekonomi dalam Implementasi Merdeka Belajar Kampus Mengajar pada Masa Pandemi Covid-19 (KKN Tematik MDBPE-MBKM).

Salah seorang mahasiswa UPI yang mengikuti kegiatan itu ialah Muhammad Tegar Yulianza. Tegar, sapaannya, menjadi salah satu mahasiswa yang ikut dalam KKN daring tahun kedua yang diadakan pada tanggal 1 hingga 30 Juli tahun 2021 gelombang 1. Selama kegiatan itu, Tegar memfokuskan kegiatannya pada bidang ekonomi, khususnya pada pendampingan mitra potensi usaha lokal.

Dalam prosesnya, Tegar mencari dan menghubungi dua orang mitra yang mau diajak bekerja sama dalam kegiatan ini. Dalam pencarian itu, ditemukanlah dua orang mitra yang mau bekerja sama dan menerima kehadiran dari Tegar, dua orang itu ialah Bagus dan Roni, mereka menggeluti bidang pertanian, yakni budidaya jamur tiram dan tambak ikan mas.

Setelah menemukan dua orang yang mau diajak bekerja sama, langkah selanjutnya yang dilakukan ialah mengajak mitra berbincang secara luring, terutama mengenai proses dan kendala yang dihadapi oleh mitra dalam usaha yang sedang digelutinya sebelum akhirnya masuk pada tahap identifikasi masalah. Barulah setelah mendapat banyak informasi, Tegar melakukan identifikasi masalah secara daring. Kiranya dari dua orang mitra itu, Tegar mendapatkan dua inti permasalahan yang berbeda, yakni Bagus memiliki kendala dengan menurunnya pendapatan karena pemasaran yang terhambat karena adanya pandemi dan kebijakan PPKM Darurat Jawa-Bali yang dilakukan pemerintah dan Roni memiliki kendala dengan harga pakan mahal yang tidak sebanding dengan harga jual ikan.

Dalam perbincangan yang dilakukan, Bagus mengatakan bahwa PPKM turut berdampak pada usaha yang rintisannya. Hal itu karena permintaan pasar selama PPKM menurun disebabkan pasar yang tidak beroperasi seperti biasanya. Selain itu, adanya penyekatan mobilisasi antardaerah membuatnya hanya bisa memasarkan jamurnya kepada penampung-penampung yang ada di daerahnya saja. Padahal, menurutnya, penampung-penampung yang ada di luar daerah itu banyak, tapi karena ada PPKM maka mau tidak mau penampung itu tidak lagi mengambil jamur dari Bagus karena adanya penyekatan di perbatasan daerah dan juga menurunnya permintaan di pasar yang berdampak pada menurunnya pendapatan “Ya, PPKM ikut berpengaruh juga terhadap pendapatan, utamanya karena pasar tutup terus penampungnya juga ada yang dari Lembang, kan, jadi omset berkurang” Ujarnya.

Berbeda dengan Bagus, Roni seorang petani tambak ikan mas, tidak terlalu kena dampak dari adanya PPKM. Sebab dalam pemasarannya, para pembeli yang mengunjunginya untuk menawar ikan yang ada di tambaknya. Meski begitu, bukan berarti ia tidak memiliki masalah. Masalah besar yang dihadapi olehnya ialah harga pakan yang terlalu mahal sehingga tidak sebanding dengan harga jual ikan yang murah. Dengan demikian, mau tidak mau, terkadang dia harus mengalah pada tawaran yang ditawarkan oleh Bandar yang datang, terutama ketika sudah mulai masuk masa panen. Sebab bila ikan melebihi masa panen, bisa jadi Dia malah mendapat rugi karena setiap hari harus mengeluarkan biaya untuk pakan “Biasanya yang mau beli datang ke sini, tanya (masa) panen, dan ditawar (harganya)” Jawab Roni ketika ditanyakan soal pemasaran yang ia lakukan. “Tapi kadang suka dijual di pasar juga, cuman kalau di pasar ada adu harga biasanya sama ikan dari daerah lain”, lanjutnya.

Please follow and like us:
RSS
Follow by Email
Instagram

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RSS
Follow by Email
Instagram